16 Desember 2010

Hak Istimewa Riau

Sekarang memang sedang panas-panasnya soal-menyoal hak istimewa daerah d Jogjakarta. Tapi tahukah Anda? Ternyata Riau juga, seharusnya, memiliki hak istimewa di Indonesia, kenapa? Baca hak istimewa Riau dari artikel yang ditulis oleh Mufti Saily, seorang tokoh masyarakat Siak Sri Indrapura, sudah pernah terbit di Harian Riau Pos:

Riau Juga Punya Hak Istimewa!

Kami dulu juga daerah jajahan. Kami mempunyai abdi dalam, kami mempunyai prajurit, kami mempunyai raja, kami mempunyai istana, kami daerah yang kaya. Kaya akan kebudayaan, kaya akan seni, kaya akan objek wisata, kaya akan hasil bumi. Raja kami dulu bijak, Raja kami dulu adil terhadap rakyatnya.

Raja kami tidak mempunyai kepentingan, Raja kami juga dipanggil sultan. Sultan kami tidak bergabung dengan organisasi masyarakat. Sultan kami tidak bergabung dengan partai politik. Sultan juga tidak jadi pimpinan partai. Sultan kami juga ahli dalam politik perang, bukan politik yang lain. Kita memang pernah terpisah berjuang untuk mengusir penjajah. Kita pernah mempunyai tujuan yang sama, sama-sama ingin merdeka.

Di saat merdeka, kami tidak minta daerah kami diistimewakan. Kami bergabung ke NKRI. Kami mengikuti azas demokrasi yang berlaku untuk menentukan pemimpin kami. Kami sebagai rakyat tidak menuntut daerah kami jadi diistimewakan. Saatnya sekarang kita menjunjung tinggi azas demokrasi yang berlaku. Saatnya kita bersama bergabung dalam NKRI.

Sadarlah kalian wahai elite politik. Tidak semua kalian politisasi demi kepentingan 2014. Hidup nyaman, tenang, sejahtera cuma itu yang kami harapkan. Berhentilah menjadi boneka-boneka kepentingan, sungguh semua daerah juga berhak untuk diistimewakan.

Hak Istimewa Riau, Sultan Syarif Kasim II.jpgAda benarnya juga, pasalnya menurut sejarah saat Indonesia merdeka kerajaan Siak belum bubar, Sultan Syarif Kasim masih hidup. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah Indonesia. Bersama sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak Republik Indonesia.

Lalu kenapa Riau tidak minta hak istimewa kepada republik ini? Karena Sultan kami (Riau) tidak tamak kekuasan.

4 komentar:

  1. Sultan Jogja juga tidak haus kekuasaan, tahtanya saja diserahkan untuk rakyat. Pengorbanan kesultanan jogja untuk merdeka tidak bisa dihitung dengan uang. kalau tak percaya tanya saja sama yang terlibat pada perjuangan kemerdekaan NKRI yang masih hidup (saksi sejarah) atau baca baik-baik sejarah yang benar bukan sejarah hasil rekayasa. Yang menghendaki Keistimewaan jogja itu adalah undang-undang. Jogja tidak minta diistimewakan tetapi bung karno saat itu merasa bahwa jogja layak diberi keistimewaan. kalau dipandang sekarang sudah tidak perlu Keistimewaan ya tanya sama rakyat jogja jangan pada sultan. Sultan tidak butuh keistimewaan. Mari kita sama-sama berjuang untuk kesejahteraan rakyat bukan untuk kesejahteraan penguasa.

    BalasHapus
  2. monarki pasung demokrasi, wongJowo jangan dijual untuk tahta yang katanya demi rakyat. hak demokrasi universal bukan diturunkan ke anak cucu mengejar bondho donya hai sultan hb yang kebelet

    BalasHapus
  3. waw... tambah satu lg wawasan saya ne..

    BalasHapus
  4. @Anonim pertama: Jogja memang tidak minta keistimewaan, Undang-undang (alias pemerintah) lah yang menghendaki Jogja itu menjadi daerah istimewa, tapi ketika Undang-undang (alias pemerintah) ingin mencabut hak istimewa itu kenapa Jogja tidak mau? Malah Jogja jadi defensif seakan-akan keistimewaan itu didapatkan sendiri... Dalam hal ini Jogja berarti meminta agar keistimewaan itu tidak dicabut.

    BalasHapus

Banyak Dibaca