29 November 2008

Dua Fiksi, Dua Nyata - Resensi Buku So Real/Surreal

Buku So Real/SurrealMenyukai eksperimen, Nugroho Arifin menjadikan So Real/Surreal sebagai proyeknya yang kedua, setelah novelnya yang pertama, Bidik, terbit pada 2005 silam. Selain menulis novel, Nugroho juga menulis naskah iklan, program TV, cerita pendek, dan artikel mengenai musik dan budaya kontemporer untuk berbagai majalah dan surat kabar.

Dalam novelnya kali ini, Nugroho mengajak Anisa, istrinya, turut serta dalam penyelesain novel ini. Tidak hanya sebagai pendesain sampul, Anisa juga menjadi salah tokoh sentral dalam novel ini, termasuk Nugroho.

Novel ini berawal ketika seorang laki-laki muda marah pada kenyataan. Ia berkomitmen menjalani kehidupan sekali pakai. Hidupnya penuh dengan gelas-gelas plastik yang ia pakai minum, piring-piring styrofoam yang ia gunakan untuk makan, dan celana dalam kertas yang langsung ia buang sebelum mandi. Gaya hidup serba singkat ini ia pilih untuk membatasi interaksinya dengan kenyataan yang sifatnya jangka panjang.


Setiap hal yang bersifat jangka panjang berpotensi memberi rasa nyaman dan kehilangan rasa nyaman akan mendatangkan rasa sakit, begitu pikirnya. Lewat internet, hidupnya bersilang jalan dengan Nugroho Arifin, penulis novel dan penulis naskah di sebuah advertising agency.

Di waktu yang sama, Anisa, pasangan Nugroho, tanpa disadari masuk dalam kehidupan Raymond, seorang pengusaha media terkemuka. Ia menjadi bagian dari kehidupan nyata seorang pengusaha yang selama ini hanya ia kenal dari gambarnya saja.
Sekilas, mungkin, novel ini agak rumit.

Karena memang itulah adanya. Tapi jika anda seorang maniak novel, novel ini sama saja dengan novel lainnya, yang dalam waktu satu jam setengah terselesaikan hingga ending, karena sesungguhnya isi ceritanya sangat sederhana, hanya saja dibuat berbeda dengan bumbu nyata yang diberikan penulis dalam kisah fiksi ini, sehingga pembaca akan sedikit pusing dengan adanya karakter yang berpindah-pindah di alam yang berbeda.

Selain itu, cerita dalam novel ini sangat disayangkan, karena porsi gaya hidup bebas orang metropolitan terlihat terlalu menonjol. Namun, jika anda termasuk orang yang mampu membaca novel dengan sudut pandang yang berbeda, agaknya novel ini dapat dijadikan rujukan bagi anda.***

Banyak Dibaca