22 November 2008

Kontribusi Melayu bagi Indonesia - Resensi Buku Dari Melayu ke Indonesia

Kontribusi Melayu bagi Indonesia -  Resensi Buku Dari Melayu ke IndonesiaSebuah peradaban yang kecil tentu tak akan dapat mempersatukan banyak sekali puak dan bangsa. Hanya peradaban yang besar, dengan nilai budaya yang juga besarlah yang akan mampu mempersatukan negeri ini. Peradaban besar itu adalah Melayu. Lewat bahasa, negeri ini dipersatukan. Hal itu dikukuhkan lewat Sumpah Pemuda tahun 1928. Sebuah pengakuan yang paling dahsyat bagi peradaban Melayu.

Kebudayaan Melayu, lebih jauh lagi, memiliki kontribusi yang sangat besar dalam membentuk kebudayaan nasional. Kebudayaan Melayu memiliki berbagai nilai luhur seperti tenggang rasa, keterbukaan, kemajemukan, persebatian, senasib sepenanggungan, malu, bertanggungjawab, adil dan benar, berani dan tabah, arif dan bijaksana, musyawarah dan mufakat, memanfaatkan waktu, berpandangan jauh ke depan, rajin dan tekun, amanah, dan lainnya. Sebagian besar sifat dan karakter yang diajarkan dalam budaya Melayu itu merupakan manifestasi dari ajaran Islam.

Melayu memang selalu identik dengan Islam. Sebab, adat bagi orang Melayu selalu bersendikan syarak, dan syarak bersendikan kitabullah. Dengan menjadi bagian dari ajaran Islam, maka warna peradaban Indonesia sesungguhnya sangat mencerminkan peradaban Islam. Hal ini yang kadang kurang disadari oleh banyak sekali anak bangsa, sehingga selalu mengabaikan dan phobi pada Islam.


Peradaban Indonesia yang sebagian besar mengasimilasi peradaban Melayu itu mau tak mau dan bahkan tanpa disadari telah mewarnai aspek-aspek lain kehidupan berbangsa. Ia mewarnai aspek budaya, bahasa, bahkan hukum dan perundangan. Makanya, sebenarnya bukan hal yang aneh kalau hukum dan perundangan kemudian dibuat juga berdasarkan hukum Islam dan nilai-nilai peradaban Melayu. Semua itu tak lain karena peradaban Melayu memang sudah menjadi jiwa dari bangsa.

Kebudayaan Melayu telah membuktikan keberadaannya dalam merekat kesadaran nasional dalam NKRI. Mengingat kebudayaan itu memang mempunyai dinamika, maka keberadan kebudayaan Melayu dalam arti luas senantiasa memberikan jati diri secara nasional dan internasional. Itulah yang menyebabkan kebudayaan Melayu tetap eksis, seperti halnya perkataan Laksamana Hangtuah: ‘’Patah tumbuh hilang berganti, Esa hilang dua berbilang, Takkan Melayu hilang di bumi.’’

Perkataan Laksamana Hangtuah yang berbentuk syair ini memang merupakan bagian dari budaya Melayu. Dalam mentransformasi budaya Melayu, selain syair, ada lagi pantun, bidal, tunjuk ajar hingga gurindam. Budaya ini yang kemudian menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia.

Buku Dari Melayu ke Indonesia ini memaparkan aspek-aspek penting dari kontribusi kebudayaan Melayu bagi Indonesia. Ia tak sekadar membuktikan ulang, namun juga memberikan informasi tambahan yang penting tentang kontribusi Melayu bagi kebudayaan nasional. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang pernah disampaikan penulisnya dalam berbagai seminar. Tentu dengan demikian, kadang pembahasan yang satu dengan yang lainnya dapat berbeda dan tidak konstan. Namun demikian, dengan rajutan yang baik antar bagian-bagian buku ini, kelengkapan pembahasannya menutupi kekurangan itu.***

Dari Melayu ke Indonesia
Penulis : Suwardi MS
Penerbit : Pustaka Pelajar dan Alaf
Riau, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, September 2008
Tebal : xxxviii + 449 halaman

Banyak Dibaca