11 November 2008

Gerakan Jihad Islam di Indonesia

Gerakan Jihad Islam di IndonesiaPasca terbunuhnya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo tahun 1948, banyak yang beranggapan bahwa era Negara Islam Indonesia (NII) sudah benar-benar habis. Apalagi, beberapa pemberontakan setelahnya seperti DI/TII dan PRRI juga tak bisa meruntuhkan republik. Namun dengan adanya kejadian bom Bali dan beberapa gerakan Islam yang dinilai radikal lainnya di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, sinyalemen tentang Islam Jihadi dengan konsep NII ini kembali mencuat.

Laporan-laporan dari ICG (International Crisis Group) menunjukkan bahwa gerakan Islam jihadi yang dinilai sebagai regenerasi NII sekarang tengah terjadi. Laporan ICG dengan juru bicaranya Sidney Jones, memang menjadi santapan media massa yang hangat ketika berbagai peristiwa yang menimbulkan isu publik luas, seperti bom Bali, terjadi. Kendati kerap disebut sebagai mengambil dari informasi ‘’sampah’’, namun laporan ICG yang didanai oleh donatur kelas wahid macam George Soros ini tetap dijadikan acuan banyak pihak.


Pemetaan terhadap gerakan Islam garis keras juga dilakukan, selain oleh ICG, juga kelompok akademis lainnya di tanah air. Ada Jamaah Islamiah (JI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Laskar Jihad, Front Pembela Islam (FPI), Kelompok Tarbiyah, dan lainnya. Pemetaan itu tentunya dimaksudkan untuk memudahkan mereka dalam melihat karakter dan kebiasaan masing-masing kelompok dalam melakukan gerakannya di negeri ini.

Buku Membedah Jaringan Islam Jihadi di Indonesia ini mencoba membedah bentuk, karakter dan arah masing-masing gerakan yang mengatasnamakan jihad di tanah air. Buku ini menggambarkan bahwa gerakan Islam radikal yang diistilahkan dengan Islam Jihadi ini merupakan metamorfosis dan bentuk lain dari NII. Diakui bahwa bentuknya bermacam-macam. Namun salah satu gerakan pentingnya adalah bahwa Islam adalah solusi berbagai persoalan dan diharuskannya menegakkan syariat Islam di level negara.

Buku ini ditulis oleh seorang anak muda NU yang progresif, dan oleh karenanya muatan khas NU-nya tentu sangat kental. Buku ini berusaha menghindar dari mainstream pembahasannya dengan orang-orang NU, dan menyampaikan bahwa ‘’Islam keras’’ bukanlah tradisi dan kebiasaan NU, atau organisasi Islam besar lainnya seperti Muhammadiyah. Penulis buku ini juga berusaha menghindari tokoh-tokoh NU dari Islam Jihadi dan membelanya habis-habisan dalam tiap pembahasan. Misalnya ketika ada konflik antara Gus Dur dengan FPI, penulis buku ini mengupaskan dengan sedikit memihak.

Ada usaha untuk membahas secara kritis berbagai laporan dari ICG lewat Sidney Jones yang dipaparkan dalam buku ini. Akan tetapi daya kritis dalam membahas laporan ICG itu tak begitu kental nuansanya karena tetap saja laporan-laporan itu menjadi rujukan utama. Artinya, pemetaan terhadap Islam garis keras tetap saja mengacu dari berbagai laporan ICG, sedangkan yang lain hanyalah pembanding.

Di luar itu, buku ini menarik disimak karena uraiannya yang relatif lengkap dan cukup ilmiah. Bahasanya juga menarik dan khas, kendati kerap terjebak dengan bahasa yang panjang, khas tulisan ilmiah. Bisa dikatakan, dengan sumbernya yang memadai, banyak, buku ini dapat menjadi rujukan penting bagi yang ingin memahami jejaring Islam jihadi berikut peta gerakannya di nusantara.***

Banyak Dibaca